Ya… benar, fullday school, idola baru bagi orang tua yang menginginkan putra-putrinya menjadi juara bagi anak-anak seusianya. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa fullday school menjadi pilihan dengan pertimbangan-pertimbangan berikut ini:
- Kedua orang tua yang sibuk bekerja hingga sore hari (bahkan terkadang harus lembur hingga larut malam).
- Jam sekolah yang sesuai dengan jam kerja orang tua, biasanya mulai jam 07.00 hingga 16.00 (hmm..sekolah yang bisa mengerti orang tua sibuk).
- Kurikulum sekolah yang telah jauh melampaui KTSP, dengan materi-materi tambahan yang sangat mendukung kecerdasan, pengetahuan, dan pengalaman anak/peserta didik.
- Siswa selalu dalam pantauan dan bimbingan guru/instruktur, sehingga setiap aspek dari ketiga ranah penilaian (kognitif-psikomotor-afektif) selalu terpantau.
- Dan sebagainya
Wow, luar biasa. Putra-putri kita (katakanlah masih di jenjang pendidikan SD) dapat menyaingi siswa SMP biasa. Nah, untuk membatasi panjangnya ketikan ini, mari kita batasi dulu untuk pendidikan fullday di SD (sekolah dasar).
Pertanyaan yang kemudian timbul adalah: Dapatkan anak kita mempertahankan prestasi yang didapatkan di SD hingga di bangku SMP, SMA/SMK, kuliah, dan seterusnya?
Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, rasanya perlu kita jawab dulu pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
- Apakah anak kita adalah milik kita yang selalu harus kita kontrol dan kita arahkan agar sesuai dengan keinginan kita?
- Apakah kita gembira bila merampas hak-hak anak kita demi mempermudah/mengurangi pekerjaan kita?
- Apakah kebanggaan kita hanyalah nilai-nilai yang bagus di raport anak kita?
- Apakah kita senang dan bangga memaksakan pengetahuan dan keahlian tertentu bagi anak kita, padahal hal tersebut belum begitu mereka butuhkan saat itu?
- Apakah anak kita sering mengganggu pekerjaan (baca:merepotkan) kita bila sekolah di sekolah non fullday?
Baik, mari kita hitung berapa jumlah jawaban ya dari kelima pertanyaan di atas. Bila jumlahnya minimal 3 (tiga) berarti rasanya sekolah fullday sudah kita perlukan, tetapi bila jumlahnya belum sampai 3 berarti kita belum begitu memerlukan fullday school.
Maaf, saya tidak memiliki background psikologi, namum rasanya perlu dilakukan suatu study tentang kondisi psikologis anak yang pernah dididik di fullday school setelah lulus dari sekolah itu hingga dewasanya. Adakah anomali psikologis atau tidak. Hanya, bila saat anak-anak yang seharusnya lebih banyak porsi bermainnya kemudian sudah harus dijejali dengan beraneka pengetahuan, kok rasanya kurang begitu bijaksana.
Atau, fullday school sudah memperhitungkan segala aspek yang dibutuhkan, misalnya:
- studi mendalam tentang kondisi dan prestasi lulusannya yang telah bekerja
- pendampingan psikologis bagi guru, siswa, dan juga orang tua
- tidak melulu berorientasi pada materi (baca:uang), karena biasanya yang memerlukan fullday adalah orang tua yang terlalu sibuk untuk mendidik anaknya dan mereka rela membayar mahal demi pendidikan yang diyakini bagus dan tepat bagi anak mereka.
Baiklah, sementara ini dulu yang dapat saya ketik. Semoga dapat sedikit memberikan wacana dalam berbagi pengalaman. Satu hal lagi yang harus kita ingat, bahwa anak-anak kita adalah titipan Tuhan, kita harus menjaganya dengan sepenuh hati.