Arsip untuk 'Omong-omong'Kategori

Proyeksi Lulusan SMA 1 Wonosari Tahun 2009

2009/04/13

Terbagi dalam 7 kelas yang sudah dibuat PDF, yang membutuhkan dapat download lewat link berikut:

  1. Kelas XII IPA1
  2. Kelas XII IPA2
  3. Kelas XII IPA3
  4. Kelas XII IPA4 (RSBI)
  5. Kelas XII IPA Akselerasi (Angkatan 2)
  6. Kelas XII IPS1
  7. Kelas XII IPS2

Semoga sedikit memberi wacana dan pencerahan..

Hasil Try Out UNAS ke-3

2009/03/25

Para pembaca yang budiman, terutama siswa SMA 1 Wonosari, hasil tryout ke-3 Unas dapat di download disini. Beberapa siswa perlu persiapan khusus agar lulus. Selamat berjuang….

Caleg Jadi Bulan-bulanan Warga

2009/03/13

Berita biasa, seseorang yang menjagokan diri sebagai caleg bila tidak cermat maka akan menjadi bulan-bulanan warga/masyarakat. Apa sebab?

Caleg yang dianggap mampu kemudian selalu disodori berbagai macam proposal, mulai dari proposal rehab pos ronda hingga proposal pembuatan kaos tim olahraga tingkat RT.

Harapan dari sang caleg hanyalah satu: nanti warga yang sudah didonaturi itu akan memilihnya saat pemilu.

Namun, dapatkah itu dijadikan pegangan? Sekarang warga sudah dho pinter-pinter, bisa selektif milih caleg yang royal. Nanti saat pemilu tiba, lain urusannya. Baca:belum tentu akan memilih caleg yang sudah menjadi donatur tadi.

Bahkan di lain kasus, warga sudah 120% mendukung salah seorang caleg, namun saat sampai di bilik TPS bisa 120% bingung karena terlalu banyaknya partai dan calegnya..

Kisah Secangkir Teh Hangat

2009/03/10

Judul tulisan yang biasa, namun terkadang untuk suatu hal, sesuatu yang biasa dapat menjadi luar biasa.

Begini,

Terkadang kita lupa pada jasa pasangan hidup kita pada diri kita. Atau terkadang kita mengabaikan mereka, meski mereka telah berusaha menjadi yang terbaik bagi kita.Terimakasih pada Mas Rudin & Mbak Win di Saman yang telah berbagi pengalaman pada tahun 2002 tentang cerita ini:

Setiap pagi dan sore selalu terhidang secangkir teh hangat di meja makan. Siapa yang menyiapkan? Tidak lain ya istri tercinta.. Nah, secangkir teh yang membuatkan istri, tentu saja sangat lain dari secangkir teh yang disiapkan oleh pelayan di rumah makan ataupun oleh orang lain.

Proses pembuatannya pun berbeda, kenapa? Bila yang menyiapkan secangkir teh adalah istri kita, mulai dari menyiapkan teh, mengambil cangkir, menakar sesendok gula, menuangkan teh ke dalam cangkir, mengaduk air teh agar gulanya larut, mengambil tutup cangkir, dengan hari-hari menutup cangkir teh tersebut, mengangkat cangkir dan meletakkan di meja makan..

Semua tahapan di atas tentu saja dilandasi dengan perasaan ‘cinta’.

Jadi, bila kita minum teh yang menyiapkan istri kita, berarti tidak hanya secara fisik teh itu saja yang kita minum, akan tetapi ada ‘rasa’ yang turut kita minum dan masuk ke dalam tubuh kita.

Dan, hal itu tidak akan kita dapatkan dari tempat lain selain di rumah kita sendiri..

Strategi Lulus UNAS

2009/03/10

Sebenarnya agak terlambat dalam menulis disini, namun tidak masalah, masih ada beberapa waktu lagi sebelum UNAS dilaksanakan.

Konsentrasi kita pada LULUS UNAS. Kenapa?

Meski aspek penilaian ada kognitif, psikomotor, dan afektif, namun untuk UNAS hanya mengambil aspek kognitif saja. Artinya hanya memperhatikan kemampuan pemahaman materi dengan mengabaikan kemampuan praktek. Meski Ujian Akhir Sekolah materi prektek akan diujikan.

Tinggal 1 bulan lagi, lalu bagaimana?

Langkah-langkah berikut dibutuhkan:

  1. Kumpulkan dan pelajari soal prediksi dari bimbel, buku cetak dari toko buku. Bahan UNAS dari dulu sampai sekarang kebanyakan masih sama, jadi ada kemungkinan tipe soal yang sama akan keluar lagi. Intinya adalah menambah database soal di kepala..
  2. Jangan terlalu banyak keluar rumah bila tidak penting-penting amat. Hanya memastikan tidak terjadi hal-hal yang kurang diinginkan,misalnya jatuh, dan sebagainya.
  3. Jaga stamina. Konsumsi makanan bergizi, tidak perlu berlebihan. Jangan lupa, makanan tersebut harus halal dan baik(thoyyib).
  4. Tidak perlu memikirkan yang lain-lain dulu, misal nanti setelah lulus SMA mau nikah atau kuliah, dan sejenisnya.
  5. Tidak perlu banyak stress. Sudah bukan saatnya untuk mengejar ketertinggalan materi UNAS, banyak rileks saja. Intinya, belajar tetapi rileks.

Tips lain yang belum ada disini boleh ditambahkan lewat komentar.. Terimakasih..

Proyeksi Lulusan SMA 1 Wonosari

2009/03/08

Yap..akhirnya proyeksi lulusan tahun 2007 dan 2008 sudah berhasil saya upload. Untuk download, silahkan lewat link berikut ini:

Lulusan tahun 2007:

  1. Kelas XII-IPA1 | ziddu | 4shared
  2. Kelas XII-IPA2 | ziddu | 4shared
  3. Kelas XII-IPA3 | ziddu | 4shared
  4. Kelas XII-IPA4 | ziddu | 4shared
  5. Kelas XII-IPS1 | ziddu | 4shared
  6. Kelas XII-IPS2 | ziddu | 4shared

Lulusan tahun 2008:

  1. Kelas XII-IPA1 | ziddu | 4shared
  2. Kelas XII-IPA2 | ziddu | 4shared
  3. Kelas XII-IPA3 | ziddu | 4shared
  4. Kelas XII-IPA-Aksel (Angkatan I) | ziddu | 4shared
  5. Kelas XII-IPS1 | ziddu | 4shared
  6. Kelas XII-IPS2 | ziddu | 4shared
  7. Kelas XII-IPS3 | ziddu | 4shared

Terimakasih…

Sikap Guru Terhadap Siswanya

2009/03/08

Ada beberapa hal yang harus difahami bersama, bahwa sikap guru (termasuk juga image guru) memegang peran penting dalam menentukan siswa akan suka/tidak pada pelajaran yang diampu guru tersebut.
Banyak contoh yang dapat kita cermati dari sekitar kita saja, atau kalau kita mau, kita dapat coba cek kepada adik kita atau anak kita.

Namun, dari sekian banyak guru ada yang terlalu idealis dalam mengelola kelas. Idealis dalam arti siswa harus memiliki pemahaman yang harus sama dengan pemahaman guru tersebut. Atau ada yang menganggap siswanya terlalu lama dalam memahami suatu pokok bahasan, dalam pelajaran yang diampu tersebut. Bahkan ada yang mengecap siswanya bodoh.

Rasanya yang paling akhir tadi cukup membahayakan ‘jiwa’ siswa. Disadari/tidak, semua siswa pasti memiliki kepandaian/kecerdasan/kelebihan. Bila kita menganggap siswa terlalu lambat dalam memahami materi, coba kita pertimbangan faktor-faktor berikut ini:
1. Sudah berapa lama kita mempelajari materi tersebut dan berapa lama siswa mempelajari materi tersebut?
2. Berapa banyak referensi yang kita pergunakan dan berapa banyak referensi yang dipergunakan siswa?
3. Berapa macam pelajaran yang kita pelajari dan berapa macam pelajaran yang harus dipelajari siswa?
4. Berapa porsi waktu kita untuk mendalami materi kita di luar jam pelajaran dan berapa porsi yang dimiliki siswa dalam membagi waktu dengan pelajaran-pelajaran lain di sekolah?

Bila kita bijak, kalimat yang menyebutkan bahwa ada siswa yang ‘bodoh’ tentu tidak akan terucap. Yang ada hanya siswa kurang begitu memahami materi dengan baik.

Satu hal penting lain yang tidak dapat kita remehkan adalah: Boleh jadi siswa yang kita anggap bodoh tersebut satu saat nanti akan jauh melampaui level kita (guru), bisa menjadi pilot betul, dosen betul, presiden betul, dokter betul, dan seterusnya… Dan boleh jadi tadinya saat kecil kita bercita-cita menjadi pilot tetapi tidak kesampaian…

Proyeksi Lulusan SMA 1 Wonosari

2009/03/07

Berikut ini tidak ada kaitannya dengan pelajaran TIK maupun Kimia yang saya ajarkan ke siswa, namun lebih dekat ke Bimbingan & Konseling. Bukannya bermaksud untuk menyaingi mereka yang di BK, ataupun saya punya keinginan jadi guru BK, tetapi lebih ke tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya.

Kebetulan 3 tahun terakhir ini diberi tugas untuk mengajar kelas XI dan kelas XII, maka saat pertama kali ketemu dengan kelas XI di semester 1 saya membuat PR yang harus dikumpulkan pada saat mereka kelas XII semester 2. PR yang harus mereka kumpulkan adalah gambaran proyeksi mereka setelah 10 tahun mereka lulus dari SMA 1 Wonosari.

Ada yang menuliskan dengan rapi, ada yang membuat ilustrasi, dan sebagainya.. Alhamdulillah, 100% proyeksi mereka bagus, dan alhamdulillah lagi, masih ada yang memproyeksikan dirinya menjadi guru…

Koleksi proyeksi siswa tersebut sudah terkumpul mulai lulusan tahun 2007, 2008, dan sekarang baru dalam proses mengumpulkan yang lulusan 2009 (Insya Allah semua lulus..).

Bagi yang membutuhkan dokumen tersebut dapat request lewat tulisan ini… Memang rencana akan saya upload agar lebih banyak yang dapat sama-sama belajar dengan siswa..

Prediksi Hasil Pemilu 2009

2009/03/01

Saya tidak akan memprediksikan partai apa yang menang, siapa calon presiden yang benar-benar sampai di istana negara, namun saya hanya memprediksikan bahwa kartu suara yang gugur akan cukup banyak.

Kenapa?

Sebelum dijawab, perlu dipuji dulu bahwa pertanyaan di atas merupakan pertanyaan yang sangat bagus. Padahal pemerintah sudah memerintahkan MUI untuk memberi label HARAM bagi masyarakat yang tidak memilih saat pemilu (golput). Kenapa MUI yang diminta mengeluarkan fatwa? Jawaban klasik yang mudah ditebak, bahwa sekitar 80% WNI adalah muslim (meski ada yang muslim KTP).

Ketakutan pada golput rasanya cukup beralasan, karena semua caleg ditampilkan untuk langsung dipilih. Dulu, boleh jadi masyarakat fanatik ke partai saja hingga memilih partai tertentu. Sekarang, meski preferensi ke partai tertentu tetapi bila caleg yang ditampilkan kurang sesuai dengan yang diharapkan? Ya..golput jadi pilihan utama.

Pendidikan kita “mungkin” cukup berhasil, masyarakat tidak lagi terlalu mudah dibohongi. Kaitannya dengan fatwa MUI, boleh jadi pemilih yang golput akan menjadi sangat sedikit, karena HARAM itu DOSA, maka nanti saat pemilu juga akan hadir ke TPS-TPS dan juga memilih. Tetapi karena caleg yang di kartu suara tidak ada yang sreg dengan nurani, maka langkah terakhir yang ditempuh adalah membuat pilihan yang nantinya dapat membuat gugur kartu suara tersebut.

Bila beberapa artikel memprediksikan golput mencapai 40%, boleh jadi tidak akan mencapai angka tersebut. Namun, suara yang gugur akan lebih besar karena harakiri hak suara akibat golput=haram=dosa=masuk neraka.

Fullday School

2009/01/10

Ya… benar, fullday school, idola baru bagi orang tua yang menginginkan putra-putrinya menjadi juara bagi anak-anak seusianya. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa fullday school menjadi pilihan dengan pertimbangan-pertimbangan berikut ini:

  1. Kedua orang tua yang sibuk bekerja hingga sore hari (bahkan terkadang harus lembur hingga larut malam).
  2. Jam sekolah yang sesuai dengan jam kerja orang tua, biasanya mulai jam 07.00 hingga 16.00 (hmm..sekolah yang bisa mengerti orang tua sibuk).
  3. Kurikulum sekolah yang telah jauh melampaui KTSP, dengan materi-materi tambahan yang sangat mendukung kecerdasan, pengetahuan, dan pengalaman anak/peserta didik.
  4. Siswa selalu dalam pantauan dan bimbingan guru/instruktur, sehingga setiap aspek dari ketiga ranah penilaian (kognitif-psikomotor-afektif) selalu terpantau.
  5. Dan sebagainya

Wow, luar biasa. Putra-putri kita (katakanlah masih di jenjang pendidikan SD) dapat menyaingi siswa SMP biasa. Nah, untuk membatasi panjangnya ketikan ini, mari kita batasi dulu untuk pendidikan fullday di SD (sekolah dasar).

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah: Dapatkan anak kita mempertahankan prestasi yang didapatkan di SD hingga di bangku SMP, SMA/SMK, kuliah, dan seterusnya?

Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, rasanya perlu kita jawab dulu pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apakah anak kita adalah milik kita yang selalu harus kita kontrol dan kita arahkan agar sesuai dengan keinginan kita?
  2. Apakah kita gembira bila merampas hak-hak anak kita demi mempermudah/mengurangi pekerjaan kita?
  3. Apakah kebanggaan kita hanyalah nilai-nilai yang bagus di raport anak kita?
  4. Apakah kita senang dan bangga memaksakan pengetahuan dan keahlian tertentu bagi anak kita, padahal hal tersebut belum begitu mereka butuhkan saat itu?
  5. Apakah anak kita sering mengganggu pekerjaan (baca:merepotkan) kita bila sekolah di sekolah non fullday?

Baik, mari kita hitung berapa jumlah jawaban ya dari kelima pertanyaan di atas. Bila jumlahnya minimal 3 (tiga) berarti rasanya sekolah fullday sudah kita perlukan, tetapi bila jumlahnya belum sampai 3 berarti kita belum begitu memerlukan fullday school.

Maaf, saya tidak memiliki background psikologi, namum rasanya perlu dilakukan suatu study tentang kondisi psikologis anak yang pernah dididik di fullday school setelah lulus dari sekolah itu hingga dewasanya. Adakah anomali psikologis atau tidak. Hanya, bila saat anak-anak yang seharusnya lebih banyak porsi bermainnya kemudian sudah harus dijejali dengan beraneka pengetahuan, kok rasanya kurang begitu bijaksana.

Atau, fullday school sudah memperhitungkan segala aspek yang dibutuhkan, misalnya:

  1. studi mendalam tentang kondisi dan prestasi lulusannya yang telah bekerja
  2. pendampingan psikologis bagi guru, siswa, dan juga orang tua
  3. tidak melulu berorientasi pada materi (baca:uang), karena biasanya yang memerlukan fullday adalah orang tua yang terlalu sibuk untuk mendidik anaknya dan mereka rela membayar mahal demi pendidikan yang diyakini bagus dan tepat bagi anak mereka.

Baiklah, sementara ini dulu yang dapat saya ketik. Semoga dapat sedikit memberikan wacana dalam berbagi pengalaman. Satu hal lagi yang harus kita ingat, bahwa anak-anak kita adalah titipan Tuhan, kita harus menjaganya dengan sepenuh hati.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.