Judul tulisan yang biasa, namun terkadang untuk suatu hal, sesuatu yang biasa dapat menjadi luar biasa.
Begini,
Terkadang kita lupa pada jasa pasangan hidup kita pada diri kita. Atau terkadang kita mengabaikan mereka, meski mereka telah berusaha menjadi yang terbaik bagi kita.Terimakasih pada Mas Rudin & Mbak Win di Saman yang telah berbagi pengalaman pada tahun 2002 tentang cerita ini:
Setiap pagi dan sore selalu terhidang secangkir teh hangat di meja makan. Siapa yang menyiapkan? Tidak lain ya istri tercinta.. Nah, secangkir teh yang membuatkan istri, tentu saja sangat lain dari secangkir teh yang disiapkan oleh pelayan di rumah makan ataupun oleh orang lain.
Proses pembuatannya pun berbeda, kenapa? Bila yang menyiapkan secangkir teh adalah istri kita, mulai dari menyiapkan teh, mengambil cangkir, menakar sesendok gula, menuangkan teh ke dalam cangkir, mengaduk air teh agar gulanya larut, mengambil tutup cangkir, dengan hari-hari menutup cangkir teh tersebut, mengangkat cangkir dan meletakkan di meja makan..
Semua tahapan di atas tentu saja dilandasi dengan perasaan ‘cinta’.
Jadi, bila kita minum teh yang menyiapkan istri kita, berarti tidak hanya secara fisik teh itu saja yang kita minum, akan tetapi ada ‘rasa’ yang turut kita minum dan masuk ke dalam tubuh kita.
Dan, hal itu tidak akan kita dapatkan dari tempat lain selain di rumah kita sendiri..